Desain Logo

Desain Logo
Perusahaan | Distro | dll. Murah hanya 200rb Hub. 08117450827 | pin BB 22EBD491

Sunday, 3 March 2013

Pengusaha Indonesia Masih Jago Kandang


Pengusaha Indonesia Masih Jago Kandang   
Pekerja membuat pot keramik di industri keramik dan gerabah Oma Saputra di Kiaracondong, Bandung, Jumat (4/1). Harga Elpiji yang naik tahun ini akan semakin membebani pengusaha kecil. TEMPO/Prima Mulia

Asian Development Bank (ADB) Institute menilai para pelaku usaha Indonesia masih enggan memanfaatkan free trade areas (FTAs). "Sebanyak 85,3 persen enggan karena kekurangan informasi tentang FTAs," ujar Director of Research ADB Institute, Ganeshan Wignarajan, dalam paparannya di simposium Indonesia-Japan Relations and Economic Integration in East Asia (Beyond Asean Economic Community), Senin, 4 Maret 2013.
Sebanyak 30,5 persen dari 95 responden lebih memilih untuk menggunakan skema lain, misalnya economic processing zone, dibanding FTAs. Proses dokumentasi ekspor yang terhambat juga menjadi alasan 25,3 persen responden untuk tidak memanfaatkan FTAs. Kompleksnya peraturan dalam negeri dianggap 23,2 persen reponden sebagai faktor untuk tidak masuk dalam FTAs.

Selain itu, kata Ganeshan, para pelaku tidak tertarik untuk melakukan perdagangan dengan partner internasional, tidak melihat pentingnya FTAs, tidak ada dukungan dari pihak manajemen, kecilnya margin, serta ukuran nontarif yang dipakai partner dalam FTAs.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Syarifuddin Hasan, menyatakan para pelaku UKM dalam negeri harus siap menghadapi persaingan di Asean Economic Community. "Kadang pelaku kita ke luar negeri, promosi. Begitu dapat order, pulang menjadi bingung," ucapnya.

Para pelaku UKM dalam negeri itu, kata dia, masih menghadapi kendala dalam permodalan dan sumber daya manusia. Hal tersebut, dinilai Syarifuddin, mampu memperlambat pengiriman produk kepada pembeli di luar negeri. Ia mengatakan keterlambatan itu akan merusak citra Indonesia.

"Saya cenderung fokus ke pasar dalam negeri," ujarnya. Syarifuddin menuturkan, yang terpenting, para pelaku UKM Indonesia menjadi market leader di pasar dalam negeri. Ia menyebut pasar dalam negeri sangat luas.

Bahkan, menurut dia, para pelaku UKM asing berusaha masuk ke pasar dalam dalam negeri Indonesia. Ia mengatakan Indonesia memiliki kekuatan dalam furniture serta handicraft. Menurut dia, para pelaku UKM Indonesia mampu mengasilkan furniture dan handicraft dengan sentuhan budaya yang tidak dimiliki pelaku UKM asing.

Pengusaha Indonesia Masih Jago Kandang


Pengusaha Indonesia Masih Jago Kandang   
Pekerja membuat pot keramik di industri keramik dan gerabah Oma Saputra di Kiaracondong, Bandung, Jumat (4/1). Harga Elpiji yang naik tahun ini akan semakin membebani pengusaha kecil. TEMPO/Prima Mulia

Asian Development Bank (ADB) Institute menilai para pelaku usaha Indonesia masih enggan memanfaatkan free trade areas (FTAs). "Sebanyak 85,3 persen enggan karena kekurangan informasi tentang FTAs," ujar Director of Research ADB Institute, Ganeshan Wignarajan, dalam paparannya di simposium Indonesia-Japan Relations and Economic Integration in East Asia (Beyond Asean Economic Community), Senin, 4 Maret

Kemelut Demokrat, Ramadhan: Partai Lain Jangan Sok Tahu


Kemelut Demokrat, Ramadhan: Partai Lain Jangan Sok Tahu  
Anas Urbaningrum meninggalkan gedung Dewan Pimpinan Partai Demokrat, Jakarta, (23/02) dengan melepaskan jaket Demokrat setelah menyatakan mundur dari jabatannya sebagai ketua umum partai Demokrat. Tempo/Dian Triyuli Handoko

 Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan meminta agar
partai lain tidak turut campur dan mengomentari keadaan internal partainya.

Sebelumnya, politikus Partai Gerindra Martin Hutabarat menyatakan, Komisi Pemberantasan Korupsi harus memeriksa Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas karena dugaan menerima aliran dana dalam kasus Hambalang. Kasus itu menyeret bekas Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum, yang kini berstatus tersangka.

"Itu adalah khayalan tingkat tinggi. Jadi partai lain jangan sok tahu," ujarnya di Jakarta, Sabtu, 2 Maret 2013.

Ramadhan memastikan, penyebutan nama Ibas dalam dugaan penerimaan dana Hambalang tidak berdasarkan fakta. "Ini agak aneh karena pengacaranya Nazaruddin memastikan tidak pernah ada penyebutan nama Ibas dalam kasus Hambalang," ucapnya.

Dia malah menantang Gerindra jika suatu saat Ketua Dewan Pembina Partai itu, Prabowo Subianto, diperiksa karena terlibat suatu kasus. "Apakah Gerindra siap kalau Prabowo diperiksa?" kata Ramadhan.

Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR itu menegaskan, Demokrat tidak terpengaruh terhadap sejumlah pernyataan dari pihak luar. "Kami akan jalan terus dan mengembalikan kepercayaan publik," ujar dia.

Kemelut Demokrat, Ramadhan: Partai Lain Jangan Sok Tahu


Kemelut Demokrat, Ramadhan: Partai Lain Jangan Sok Tahu  
Anas Urbaningrum meninggalkan gedung Dewan Pimpinan Partai Demokrat, Jakarta, (23/02) dengan melepaskan jaket Demokrat setelah menyatakan mundur dari jabatannya sebagai ketua umum partai Demokrat. Tempo/Dian Triyuli Handoko

 Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan meminta agar

Internet Banking Panin

Mw prewed???

Mw prewed???
prewed | hub. 08117450827